LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
DASAR-DASAR AGRONOMI
Oleh:
KHAYATU KHOIRI
05121407020
PROGRAM STUDI
AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2013
I.PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
suatu sektor pertanian, terutama dalam pembudidayaan tanaman-tanaman disuatu
daerah hal yang harus diperhatikan sarana produksi pertanian termasuk pada
salah satu subsistem agribisnis yaitu subsistem agribisnis yakni : kegiatan
industri dan perdagangan yang menghasilkan sarana produksi pertanian (arti
luas) yakni pembenihan (pembibitan) tumbuhan, ikan dan hewan, dan makhluk hidup
lainnya. Sarana produksi merupakan bahan yang sangat menentukan didalam
budidayaa tanaman. Pada suatu wilayah tertentu sarana yang ada hubungannya langsung
dengan pertumbuhan tanaman dilapangan adalah benih/ bibit, pupuk, bahan kimia
pengendali musuh tanaman/ perangsang tumbuh tanaman adan alat-alat pertanian.
Pupuk
merupakan saran produksi dalam meningkatkan produksi tanaman dan mempertahankan
produktifitas tanah. Pupuk dapat berupa pupuk organik dan pupuk anorganik.
Pupuk anorganik biasanya bibuat oleh manusia dipabrik melalui suatu proses
tersebut. Beberapa pupuk buatan yang banyak digunakan adalah UREA, TSP,
KCL, ZA, dl. Pupuk organik adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau, dan
guano. Sekarang ini sudah umum digunakan pupuk cair melalui daun. Benih atau
bibit merupakan sarana pokok dan utama didalam budidaya tanaman. Dengan benih
atau bibit yang baik akan memberikan pertumbuhan tanaman yang baik juga dan
produksi yang tinggi.
Unsur
sarana produksi yakni : Benih atau bibit, pupuk, inokulan, pestisida, ZPT,
serta alat pertanian lainnya. Inokulan adalah bahan yang mengandung materi
bakteri atau jamur yang dapat bersimbiosis dengan tanaman dalam tubuhnya. Contohnya
: legin, rizogen. Pestisida adalah senyama kimia yang digunakan untuk
mengendalikan pengganggu tumbuhan. Contoh :herbisida (mengendalikan
gulma), insektisida (mengendalikan serangga), rodentisida (mengendalikan
tikus), nematisida (mengendalikan nematoda), bakterisida(mengendalikan
bakteri), dan lain sebagainya. Penggunaan pesstisida tanpa mengikuti aturan
yang diberikan dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.
Setelah
semuanya kita gunakan sesuai menurut keadaan dan kebutuhan tanaman,diperlukan
suatu alat untuk mengelola lahan. Pemilihan alat-alat ini juga sangat
berpengaruh pada baik buruknya lahan pertanian. Contohnya jika kita
menginginkan waktu yang efisien dalam penggemburan lahan maka janga gunakan
alat tradisional seperti cangkul,,parang,dll. Kita harus menggunakan alat yang
lebih modern agar waktupun dapat kita maksimalkan dengan baik.
B.
Tujuan
Tujuan
pada praktikum “ Sarana Prouksi “ adalah
agar mahasiswa mengetahui berbagai macam jenis, bentuk kegunaan dan informasi
lainnya tentang sarana produksi yang digunakan pada pertanian.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Lahan
pertanian dan keterbatasan air merupakan fenomena dasar dalam suatu
pengembangan pertanian tanaman pangan. Lahan pertanian yang ada terus mengalami
penyusutan, karena tergeser oleh aktivitas non pertanian. Di samping itu
permasalahan produksi, pascapanen, distribusi, dan pemasaran masih sering
terjadi akibat lemahnya dukungan sarana dan prasarana pertanian, sehingga
kurang berhasil mewujudkan sistem agribisnis yang baik yang pada gilirannya
gagal menaikkan pendapatan petani. Oleh karena itu, dukungan sarana dan
prasarana pertanian perlu untuk dikembangkan dalam suatu rancang bangun
pengembangan pertanian tanaman pangan yang komprehensif (Jaenudin 2006)
Infrastruktur
pada dasarnya adalah faktor pendukung bagi kegiatan utama di pedesaan yang
berdasar kepada komoditas pertanian. Infrastruktur mampu menggerakkan sektor
riil, menyerap tenaga kerja, meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah,
serta memicu kegiatan produksi. Ketidakmampuan memberikan pelayanan
infrastruktur merupakan indikasi kemampuan pemerintah yang semakin terbatas
dalam kapasitas pembiayaan. Infrastruktur tidak hanya terbatas pada prasarana
dan sarana fisik saja, melainkan mempunyai fungsi yang lebih penting lagi yaitu
fungsi jasa pelayanan. Dalam hal ini jasa pelayanan mempunyai tiga dimensi
penting yaitu dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Infrastrukur dapat
dikategorikan menjadi dua bagian:
1) infrastruktur
yang bersifat software seperti: kebijaksanaan, kelembagaan, regulasi,
keuangan, penelitian dan pengembangan, pendidikan, tata ruang, dan
lain-lain; serta
2) infrastruktur
yang bersifat hardware seperti : jalan, jembatan, irigasi, pasar, pelabuhan,
jaringan listrik, telepon, dan lain sebagainya (Tambajong 2009)
Irigasi
merupakan prasarana untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Jaringan
irigasi merupakan prasarana irigasi yang terdiri atas bangunan dan saluran air
beserta perlengkapannya. Sistem jaringan irigasi dapat dibedakan antara jaringan
irigasi utama dan jaringan irigasi tersier. Jaringan irigasi utama meliputi
bangunan – bangunan utama yang dilengkapi dengan saluran pembawa, saluran
pembuang. dan bangunan pengukur. Jaringan irigasi tersier merupakan jaringan
irigasi di petak tersier, beserta bangunan pelengkap lainnya yang terdapat di
petak tersier (Kartasapoetra 1991).
Menurut
Hansen et al (1977) irigasi didefinisikan sebagai pemberian air ke tanah untuk
tujuan meningkatkan kelembaban tanah yang penting bagi tanaman. 7 Selanjutnya
untuk pengertian yang lebih luas irigasi dilakukan untuk tujuan ;
a) menambahkan
air ke lahan/tanah untuk meningkatkan kelembaban tanah yang
esensial bagi
tanaman,
b) untuk
melindungi tanaman dari kekurangan air,
c) untuk
mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga tanah lebih sesuai bagi tanaman untuk
tumbuh,
d) untuk
mengurangi akibat dari pembekuan es,
e) untuk
pencucian garam-garam dari tanah,
f) untuk
mengurangi pengikisan tanah,
g) untuk
memudahkan pengolahan tanah dan
h) untuk
mengurangi pembentukan debu melalui pendinginan oleh evaporasi.
Sumber daya air
adalah salah satu unsur yang harus disediakan dalam strategi pembangunan dan
pengembangan pertanian. Dalam usaha budidaya tanaman faktor ketersediaan air
harus dipertimbangkan agar terhindar dari resiko kegagalan panen, air akan
berfungsi memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi tanaman dan juga berperan
dalam proses fisiologi tanaman (Nusa, 1991).
Menurut Ahmad
(2003) air terbatas menurut waktu, tempat dan jumlah air yang tersedia diatas
permukaan bumi, untuk itu perlu diusahakan penyediaan air yang cukup agar tidak
menimbulkan kekurangan air.
Menurut Nusa (1991) sistem irigasi dapat diartikan sebagai satu kesatuan yang
tersusun dari berbagai komponen, menyangkut upaya penyediaan, pembagian,
pengelolaan dan pengaturan air dalam rangka meningkatkan produksi pertanian.
Beberapa komponen dalam sistem irigasi diantaranya adalah :
a) siklus
hidrologi (iklim, air atmosferik, air permukaan, air bawah pemukaan)
b) kondisi fisik
dan kimiawi (topografi, infrastruktur, sifat fisik dan kimiawi lahan)
c) kondisi
biologis tanaman
d) aktivitas
manusia (teknologi, sosial, budaya, ekonomi).
Efisiensi
irigasi adalah angka perbandingan dari jumlah air irigasi nyata (distribusi dan
aplikasi) yang terpakai untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman dengan jumlah air
yang keluar dari pintu pengambilan (intake).
Efisiensi
irigasi 8 merupakan faktor penentu utama dari unjuk kerja suatu sistem jaringan
irigasi. Efisiensi irigasi terdiri atas efisiensi pengaliran yang pada umumnya
terjadi di jaringan utama dan efisiensi di jaringan sekunder yaitu dari
bangunan pembagi sampai petak sawah. Efisiensi irigasi didasarkan asumsi
sebagian dari jumlah air yang diambil akan hilang baik di saluran maupun di
petak sawah. Kehilangan air yang diperhitungkan untuk operasi irigasi meliputi
kehilangan air di tingkat tersier, sekunder dan primer. Besarnya masing-masing
kehilangan air tersebut dipengaruhi oleh panjang saluran, luas permukaan
saluran, keliling basah saluran dan kedudukan air tanah (PU 1986).
Untuk
peningkatan efisiensi irigasi dibutuhkan perbaikan sistem pengelolaan irigasi
dalam semua level bukan hanya ditingkat akuisisi, distribusi maupun drainase
tetapi juga tingkat usahatani. Kesemuanya itu membutuhkan perbaikan secara simultan
dalam aspek teknis di bidang irigasi maupun usahatani, peningkatan kapasitas
pembiayaan dan penyempurnaan sistem kelembagaan dalam pengelolaan irigasi
(Sumaryanto 2007).
Selama
ini keberpihakan pada kegiatan penanganan pascapanen (pengolahan) gabah/beras
masih tertinggal apabila dibandingkan dengan kegiatan pra panen atau budidaya.
Oleh karena itu, diharapkan adanya suatu kebijakan nasional yang ditetapkan
untuk meningkatkan partisipasi dari semua pihak (stakeholder) guna menangani
masalah pascapanen (pengolahan) gabah/beras secara menyeluruh dan
berkesinambungan. Kegiatan penanganan pascapanen di Indonesia mulai diwujudkan
sejak peringatan Hari Pangan Sedunia, tanggal 16 Oktober 1982, dimana Menteri
Pertanian mencanangkan Gerakan Penyelamatan Produksi Pangan melalui usaha-usaha
perbaikan penanganan pascapanen dan pengolahan di tingkat petani pedesaan.
Gerakan tersebut selanjutnya diikuti dengan diterbitkannya beberapa kebijakan
pemerintah, baik dalam bentuk Keppres No. 47 tahun 1986 maupun berupa peraturan-peraturan
penyediaan sarana dan prasarana pascapanen terrnasuk pendidikan dan pelatihan
serta koordinasi antar instansi terkait. Kekuatan hukum yang lain dalam
penanganan pascapanen tertuang pada Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang
"Sistem Budidaya Tanaman". Dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan
tujuan panen dan pascapanen yang 9 mencakup
(a) menekan
tingkat kehilangan dan atau kerusakan,
(b) meningkatkan
mutu,
(c)
memperpanjang daya simpan,
(d) meningkatkan
daya guna, dan
(e) nilai tambah
serta daya saing (Damardjati 2006).
Terkait dengan
kegiatan pascapanen upaya diarahkan terutama dalam upaya peningkatan nilai
tambah melalui penerapan teknologi yang tepat untuk mengurangi susut
pascapanen, peningkatan mutu, dan peningkatan efisiensi pengolahan. Hal ini
akan berdampak pada peningkatan produksi dan harga jual yang berimplikasi pada
peningkatan kehidupan sosial dan ekonomi petani dan masyarakat umumnya. Disini
juga diperlukan kebijakan pemerintah agar nilai tambah dalam pascapanen ini
dapat dinikmati oleh petani. Hasil samping penggilingan padi selama ini belum
mendapatkan perhatian yang memadai, padahal pemanfaatan hasil samping
pengolahan padi dan beras dapat memberikan keuntungan ekonomis dan ekologis.
Menir dapat diolah menjadi tepung beras sedangkan dedak dapat diolah menjadi
minyak dedak. Sekam dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi panas, bahan
campuran di industri batu bata, pakan ternak atau biogas (Purwadaria 2004).
Rice Processing
complex (RPC) adalah suatu kawasan sistem pengolahan padi yang terdiri dari sub
sistem pengeringan, sub sistem penyimpanan, sub sistem penggilingan dan sub
sistem pengemasan yang terintegrasi dalam satu lini proses menggunakan mesin
modern. Konsep RPC sebenarnya adalah penyempurnaan dari sistem rice milling yang
dilengkapi dengan sistem pengeringan, penyimpanan dan pengemasan.
Konsep ini sebetulnya dikembangkan dalam rangka mengontrol seluruh alur proses
pengolahan padi dalam suatu sistem terintegrasi, sehingga mutu produk dapat
terjaga keseragamannya serta secara nyata mengurangi susut bobot. Penggunaan
sistem RPC ini secara umum diproyeksikan untuk dapat meningkatkan daya saing
beras yang dihasilkan melalui mutu dan harga. Hal tersebut dapat dicapai karena
RPC dapat memperbaiki efisiensi pengolahan padi melalui :
a) Perbaikan
mutu beras Dengan mengontrol bahan baku yang masuk dan pengontrolan secara
ketat selama proses pengolahan maka akan dapat diproduksi beras dengan mutu
prima. Tentu ini masih tergantung dari kualitas bahan baku padi yang diolah,
10sehingga penerapan RPC juga harus diikuti oleh perbaikan sistem budidaya dan
pemilihan varietas padi yang baik.
b) Peningkatan
rendemen pengolahan Dengan sistem pengolahan menggunakan mesin modern,
maka semua bagian/sub sistem dapat dikontrol dengan baik sehingga dapat
mengurangi susut secara signifikan.
III.PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Praktikum
Pengenalan Alat dan Mesin Pertanian ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 21 Maret 2013 di ruang RKC 1106
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
B.
Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan pada saat praktikum pengenalan alat dan mesin pertanian adalah :
1.Pensil 2.Spidol warna
Sedangkan
bahan yang digunakan dalam praktikum pengenalan tanaman agronomi
adalah :1.Contoh
Gambar Sarana Produksi 2.Modul
penuntun praktikum dasar-dasar agronomi
C.
Cara kerja
Adapun
cara kerja dari praktikum adalah :
1.Mencari beberapa macam sarana
produksi pertanian,setelah itu di jelaskan secara
Rinci Setelah itu gambar
2.Menemukan beberapa alat pertanian
tradisional dan modern,setelah itu gambar dan beri penjelasan pada
masing-masing alat
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Macam-macam sarana
produksi :
1.
Benih
a. Berdasarkan
posisi tumbuh
Jenis
|
Gambar
|
Keterangan
|
Contoh
tanaman
|
hipokotil
tumbuh memanjang yang mengakibatkan kotiledon dan plumula sampai keluar ke
permukaan tanah, sehingga kotiledon terdapat di atas tanah.
|
Kacang tanah,kacang hijau,jarak,kacang
panjang,dan bunga matahari
|
||
Hypogeal
|
Terjadi
pada pertumbuhan yang memanjang dari epikotil yang menyebabkan planula keluar
menembus kulit biji dan muncul di atas tanah dan kotiledon tetap didalam
tanah.
|
Kacang
kapri,jagung,padi,kelapa dan mangga
|
b. Berdasarkan
jenis
Gambar
|
Keterangan
|
Contoh
tanaman
|
|
Orthodoks
|
Benih
yang dapat disimpan dalam waktu yang lama apabila kadar airnya diturunkan
|
1.kedelai
2.anggur
3.padi
4.cabe
5.jagung
|
|
Rekalsi-tran
|
Benih
yang tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama walaupun kadar airnya
diturunkan
|
1.karet
2.sawit
3.kopi
4.durian
5.kakao
|
2.
Pupuk
1.
Berdasarkan
kandungan hara
1.
Pupuk tunggal
adalah Pupuk yang hanya mengandung 1 macam unsur hara. Contoh :
Urea,ZA,ASN,Natrium nitrat dan superfospat.
2.
Pupuk Majemuk
adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur. Contoh : DA, NPK ,
NPK, DAP, Rustica yellow.
b.
Berdasarkan
pembuatannya
1.
Pupuk alam
adalah pupuk yang terbentuk di alam dan dipakai tanpa atau sedikit proses.
Contoh : pupuk kandang,pupuk hijau,serasah,gambut dan tinja.
2.
Pupuk buatan
adalah pupuk yang diproduksi dengan teknologi khusus di pabrik, melalui
perubahan-perubahan kimia dari pupuk alam ataupun bahan dasar sederhana. Contoh
: Urea,ZA,ASN,NPK dan Natrium Nitrat.
c.
Berdasarkan
bentuknya
1.
Pupuk cair
adalah pupuk yang berupa cairan dan cara penggunaannya dengan cara melarutkan
dengan ar, umumnya pupuk ini disemprotkan pada bagian daun. Contoh : soil
builder, power grower, bio-turive,fungicide activator dan kombivil.
2.
Pupuk padat
adalahpupuk yang berbentuk padat,umumnya dipakai untuk atau langsung digunakan.
Contoh : NPK,CM,SAN,Supernasa dan ZA.
3.
Zat Pengatur
Tumbuh ( ZPT )
Jenis
|
Fungsi
|
Contoh
|
Asam
absisat
|
1.membantu peluruhan daun pada
musim kering
2.menghambat pemanjangan dan
pembelahan sel
3.merangsang penutupan mulut daun
pada musim kering
4.menghambat pertubuhan tumbuhan
5.membantu tumbuhan
mengatasi dan bertahan pada masa dormansi
|
1. Paclobutrazol
2. Ancymidol
3. TIBA dan CCC
|
Auksin
|
1.Merangsang dominasi apikal
2.merangsang pembentukan
bunga,perkembangan bunga,dan akar adventif
3.menghambat pertumbuhan tunas
samping
4.mengatur pembesaran sel
5.mencegah rontoknya
daun,bunga,dan buah
|
1.IAA
2.PAA
3Chlorol
AA
|
Sitokinin
|
1.memacu pembelahan sel
2.mempercepat pelebaran daun
3.mempercepat tumbuhnya akar
4.memacu pertunasan lateral pada
pucuk batang
5.menunda pengguguran
daun,bunga,dan buah
|
1.Kinetin
2.Zeatin
3.BA
|
Giberelin
|
1.Memacu pertumbuhan buah tanpa
biji
2.menyebabkan tanaman mengalami
pertumbuhan raksasa
3.menyebabkan tanaman berbunga
sebelum waktunya
4.memacu pertumbuhan kambium pada
tanaman dikotil
5.mematahkan darmansi buah dan
biji
|
GA
4,GA 3,GA5
|
Etilen
|
1.mempercepat pemasakan buah
2.menyebabkan penebalan batang
3.memacu pembungaan
4.mempercepat pertumbuhan kecambah
5.mempercepat kematangan buah
|
1. Etephon
2. Protephon
|
4.
Peptisida
Jenis
|
Kegunaan / sasaran
|
Contoh
|
Cara
aplikasi
|
Insektisida
|
Serangga
|
Tiodan
|
Semprot
|
Fungisida
|
Jamur
|
Orgonomerkuri
|
Semprot
|
bakterisida
|
Bakteri
|
Tetramecin
|
Semprot
|
Rodentisida
|
Tikus
|
Warangan
|
Semprot
|
Nematisida
|
Cacing
|
Rapan
|
Diletakkan
dekat tanaman
|
Herbisida
|
Alang-alang
|
Pentaklorafol
|
Semprot
|
Akarisida
|
Tungau
|
Samite
|
Semprot
|
Algasida
|
Ganggang
|
LD50
|
Semprot
|
Molluskisida
|
Siput
|
Romero
Sowp
|
Semprot
|
5.
Inokulan
Inokulan
adalah bakteri atau mikroba yang diberikan padda tanah tanaman guna untuk
merangsang pertumbuhan tanaman.Contoh : Em4,Rhizobium
B.
Pembahasan
Menurut
Lingga, 1986 Pada dekade terakhir ini segala upaya telah dicoba supaya semua
tanaman diperkebunan memberikan hasil maksimum. Ini terlihat dari
beragamnya sarana penunjang pertanian baik berupa pupuk, pengolah tanah,
pemberantas penyakit, dan zat-zat perangsang pertumbuhan yang jumlahnya
mencapai puluhan jenis.Sarana produksi pertanian terdiri atas bahan yang
meliputi benih, pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, dan obat-obatan dan
peralatan serta sarana lainnya yang digunakan untuk melaksanakan proses
produksi pertanian.
A.
Benih
Benih adalah
biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan penanaman. Pada kondisi yang
memungkinkan maka benih tersebut akan mengalami fase. Benih merupakan komponen
agronomi, dan komponenen penting di dalam pengelolaan lapang produksi sebagai
komponen agronomi, masalah benih lebih berorientasi kepada penerapan
kaidah-kaidah ilmiah.
Benih-benih
yang sudah berkecambah dikenal sebagai bibit. Benih yang baik biasanya
mempunyai ciri-ciri yaitu mengkilat, permukaannya licin dan mempunyai daya
kecambah yang baik. Tetapi benih yang bermutu belum tentu menunjukkan varietas
yang unggul. Pemilihan bibit suatu tanaman harus bedasarkan pertimbangan
kondisi lingkungan yang cocok atau media tumbuhnya.
Varietas
unggul pada benih merupakan varietas yang memiliki beberapa kelebihan antara
lain berproduksi tinggi, berumur relatif pendek, tahan serangan hama dan
penyakit penting, beradaptasi luas, serta bersifat unggul spesifik lainnya
seperti tahan naungan dan tahan kekeringan.
Setelah
dilakukan pengamatan terhadap proses – proses perkecambahan benih, ternyata
proses kecambahan benih itu dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan
faktor eksternal.
B. Pupuk
Pupuk yang
diberikan untuk memperbaiki tanah atau tanaman ada dua macam, yaitu :
·
Pupuk alam,
ada 3 antara lain :
1. Pupuk kandang, pupuk yang berasal dari kotoran hewan
dan sisa-sisa makanannya.
2 .Pupuk
kompos, adalah campuran dari rumput-rumput sampah pasar atau kumpulan dari
daun-daun yang telah gugur dan sebagainya yang dibusukkan.
3.Pupuk hijau,
adalah pupuk yang berasal dari tanaman hijau, terutama yang berasal dari
tanaman yang berbunga kupu-kupu atau yang berbuah polong.
· Pupuk
buatan, ada 2, yaitu :
1.
Pupuk tunggal, yaitu pupuk ini hanya
mengandung satu macam unsur saja. Yang termasuk pupuk tunggal adalah Z.A, TSP,
ZK, dan DS. Urea, hanya mengandung unsur nitrogen. TSP hanya mengandung unsur
fosfat. ZK, hanya mengandung kalium.
2.
Pupuk majemuk, yaitu pupuk yang
mengandung lebih dari satu unsur, seperti NPK dan DAP. NPK mengandung tiga
unsur, yaitu nitrogen, fosfat,dan kalium. DAP mengandung dua unsur, yaitu
nitrogen dan fosfat.
C.Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Zat pengatur
tumbuh merupakan senyawa organik yang bukan hara, dalam jumlah sedikit dapat
mendorong pertumbuhan tanaman. Penggunaan zat pengatur tumbuh dapat
menghemat biaya produksi karena digunakan dalam taksiran (dosis)
rendah.Beberapa zat pengatur tumbuh dan hormon yang sudah kita kenal ada 5,
yaitu auksin, giberalin, sitokinin, asam absisat, dan etilen.
D.Pestisida
Pestisida adalah substansi kimia
yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan hama. Kata pestisida
berasal dari kata pest meliputi hama penyakit secara luas dan kata sida berasal
dari kata ceado yang artinya membunuh.Penggunaan pestisida dalam pertanian
telah menunjukan kemampuannya didalam menanggulangi atau mengurangi merosotnya
hasil akibat serangan hama dan penyakit.Berdasarkan kegunaannya,
pestisida dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain :
- insektisida
untuk mengendalikan hama serangga,
- akarisida untuk mengendalikan hama tungau,
- nematisida
untuk mengendalikan hama cacing,
- rodentisida untuk mengendalikan
tikus,
- fungisida
untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan cendawan,
- bakterisida
untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan bakteri,
- herbisida
untuk mengendalikan gulma atau tanaman pengganggu
- Nematosida
untuk mengendalikan nematoda
- Larvasida untuk
mengendlikan larva
- Mitisida
untuk mengendalikan rayap
- Moluskusida
untuk mengendalikan siput
e. Inokulan
Inokulan adalah bakteri yang
diinokulasikan atau dikembangbiakan ketanaman baru. Inokulan terjadi pada
kebanyakan budidaya tanaman leguminosa yang memerlukan inokulasi bakteri
rhizobium.Mekanisme kerja sama antara bakteri rhizobium dan tanaman legum dalam
bentuk simbiosis mutualisme, yaitu simbiosis saling menguntungkan dimana
bakteri menjadi unsur C dari tanaman sebagai sumber energi bakteri, dan
tanaman mendapatkan N dari bakteri, karena bakteri mampu memfiksasi N2
dari udara.
V.KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
1.
Sarana produksi pertanian terdiri
atas bahan yang meliputi benih, pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh dan lain-lain
2.
Bahwasannya sangat dibutuhkan sarana
produksi untuk meningkatkan hasil produksi se-optimal mungkin.
3.
Benih merupakan komponen agronomi,
dan komponenen penting di dalam pengelolaan lapang produksi sebagai komponen
agronomi.
4.
Bahwasannya sangat dibutuhkan sarana
produksi untuk meningkatkan hasil produksi se-optimal mungkin.
5.
Benih merupakan komponen agronomi,
dan komponenen penting di dalam pengelolaan lapang produksi sebagai komponen
agronomi.
B.
Saran
Agar
lebih teliti dalam menggunakan sarana produksi yang ada dengan menggunakan
dosis tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan tumbuhannya agar memperoleh
hasil produksi yang tinggi dan bagus.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.Sarana Produksi
. http://www.wikipedia.org/ (diakses tanggal 20 Maret
2013)
Anonim. Jenis-Jenis
Pupuk. http://razzakoke.blog.com/?.(diakses pada 20 maret
2013)
Harjadi, Sri
Setyati. 2002. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia
Pustaka Utama : Jakarta.
Karta Saepotra, G.
Ance. 1986. Teknologi Benih. Jakarta : Rineka Cipta
Haryanto, Eko,
Tina Suhartini, Estu Rahayu. 2005. Budi Daya
Kacang
Panjang.
Penebar Swadaya : Jakarta.
Marsono, Paulus
Sigit. 2001. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya
:
Jakarta.
Sutejo, Mul Mulyani.
1988. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT. Bina Aksara : Jakarta.
Sjamsoe. M.Mui. 1995.
Dari Benih kepada Benih. Jakarta : PT. Gramedia
Tjitrosoepomo, Gembong.
2005. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press.
Jogjakarta